A Chance to Unlearn
YSEALI Academic Fellowship for Spring 2018 on Environmental Issue,
Hosted by East West Center, Hawaii, United States.
Pada 13 Maret- 18 April 2018 lalu, saya
mengikuti program YSEALI (Young South East Asia
Leaders Initiative) yang merupakan salah satu program prestigious yang di
inisiasi oleh presiden Amerika Serikat Barack Obama pada tahun 2013 lalu.
Tujuan dari diluncurkannya program ini sendiri adalah untuk memperkuat
pengembangan dan jaringan kepemimpinan anak muda antar negara di seluruh
kawasan ASEAN. Dalam kesempatan berharga ini saya mengikuti program
Enviromental Issues di East-West Center, Hawaii. Bersama dengan 21 pemuda ASEAN
lainnya.
Saya menghabiskan 3 minggu pertama di Hawaii,
selama di Hawaii, kami tinggal di Hale Manoa sebuah asrama untuk mahasiswa
Universitas Hawaii maupun peserta pertukaran pelajar. Di East-West Center, kami
belajar banyak tentang bagaimana cara bisnis menangani isu-isu lingkungan,
disana kami berhasil membuat 11 protoypes yang di pimpin oleh masing-masing
team. Ke 22 fellows dibagi menjadi 4 tim (Mauka, Makai, Leahi, dan Ewa) berdasarkan
minat dan pengalaman individu. Setiap tim membawa satu tema khusus yang saling
terkait satu sama lain.
Saya tergabung dalam Team Makai bersama 5 orang lainnya, mereka adalah Loki (Vietnam), Nick (Cambodia), Win Ko (Myanmar), Pugwan (Thailand) dan Pheakdey (Cambodia). Bersama team Makai, kami akan melakukan penelitian, mengajarkan dan melatih para fellows tentang Startup yang ada di Asia Pasifik dan bagaimana caranya menangani permasalahan lingkungan. Dan bertaggung jawab atas Startup Ecosystem Event dan Startup Accelerator program. Yang mengagumkan adalah, masing-masing dari kami akan bekerja secara individual, berpasangan, atau sebagai kelompok, kami harus memimpin presentasi kepada teman-teman masing-masing sekitar 2.5 jam per individu, mengenai topik yang sudah terpilih. Inilah yang kami sebut sebagai tipe pembelajaran “berpusat pada peserta” dan berbeda dengan perkuliahan biasanya seperti ketika seorang dosen memberi makan kepada siswa, tidak memiliki interaksi dan diskusi yang penting, beda dengan hal yang saya rasakan disini, kegiatan disini sangat berpusat dengan Leadership, yang mana kami ditekankan pada aspek kepemimpinan karena harus memimpin jalannya diskusi dan bertanggung jawab atas diskusi.
Saya tergabung dalam Team Makai bersama 5 orang lainnya, mereka adalah Loki (Vietnam), Nick (Cambodia), Win Ko (Myanmar), Pugwan (Thailand) dan Pheakdey (Cambodia). Bersama team Makai, kami akan melakukan penelitian, mengajarkan dan melatih para fellows tentang Startup yang ada di Asia Pasifik dan bagaimana caranya menangani permasalahan lingkungan. Dan bertaggung jawab atas Startup Ecosystem Event dan Startup Accelerator program. Yang mengagumkan adalah, masing-masing dari kami akan bekerja secara individual, berpasangan, atau sebagai kelompok, kami harus memimpin presentasi kepada teman-teman masing-masing sekitar 2.5 jam per individu, mengenai topik yang sudah terpilih. Inilah yang kami sebut sebagai tipe pembelajaran “berpusat pada peserta” dan berbeda dengan perkuliahan biasanya seperti ketika seorang dosen memberi makan kepada siswa, tidak memiliki interaksi dan diskusi yang penting, beda dengan hal yang saya rasakan disini, kegiatan disini sangat berpusat dengan Leadership, yang mana kami ditekankan pada aspek kepemimpinan karena harus memimpin jalannya diskusi dan bertanggung jawab atas diskusi.
Minggu pertama ketika shortcourse dimulai,
kami mengunjungi Supreme Court untuk mempelajari hukum of the land dan
bagaimana ekonomi, legal, dan faktor budya mempengaruhi politik dan masalah
lingkungan yang terjadi. Kemudian mengunjugi Bishop Museum untuk mengikuti
After Dark Tour, disana kami mempelajari tentang Navigasi Laut Tradisional
Polinesia, beljar memetakan dan membaca konstelasi, Sejarah Hawaii, Dinasourus,
dan ilmu pengetahuan alam. Jadi kunjungan kami ke Museum Bishop telah
mengajarkan saya satu atau dua hal tentang Dewa kuno penduduk asli Hawaii.
Setiap elemen alam adalah Tuhan. Hiu, Lumba-Lumba, Gurita, Kayu, Batuan, Gunung
berapi adalah contoh dari Dewa yang harus dihormati dan dicintai. Saya pikir
itu karena ideologi ini bahwa upaya konservasi di Hawai'i sangat penting.
Hal lain yang harus saya sebutkan adalah
kenyataan bahwa negara bagian Hawai'i adalah pulau yang sempurna untuk
peraturan, teknologi hijau, dll. Kami melakukan kunjungan ke situs H Power,
yang merupakan yang pertama di AS untuk memanfaatkan panas untuk menghasilkan
listrik dari pabrik insinerasi (limbah menjadi energi). Kemudiam, saya memperhatikan
bahwa ada tempat sampah daur ulang di mana-mana, semua peralatan makannya dapat
dibuat kompos, dan saya suka bahwa Hawai'i memiliki situs pengomposan udara
terbuka yang besar dan LSM bernama Hawaiian Recycling. Mereka bekerja dengan
departemen pengumpulan sampah untuk mengumpulkan limbah hijau (kebun) dari
penduduk di pulau itu. Bagian dari kegiatan YSEALI adalah kunjungan ke
Institute of Human Services (IHS) untuk belajar tentang teknologi hijau taman
atap (the rooftop gardens' green
technologies) yaitu Hidroponik dan Aquaponik. Jadi pada dasarnya adalah menanam
tanaman tanpa tanah, untuk menjamin pasokan makanan yang berkelanjutan, serta
mendapatkan keuntungan dari penjualan hasil bumi.
Kami juga melakukan Book Reflection yang mana
kami memliih beberapa artikel dari sumber pilihan para mentor seperti disitus;
Greenfacts.com. Yale.edu Kami melakukan refleksi terhadap artikel tersebut dan
mempublishnya ke akun Linkedin kami dan kemudian akan didskusikan dengan para
team yang bisa dllakukan setelah elasselesai ataupun saat malam hari. Saya
melakukan refleksi artikel dari Alex Shoumatof yang berjudul “Saving One of the
World’s Last Great Place”. Melalui artikel ini kita dapat mengetahui bahwa
masih ada hutan yang berpotensi menjadi paru-paru dunia namun keberadannya
telah ternacam akibat pekebunan kelapa sawit yang merajalela di hutan Borneo.
Pada minggu terakhir d Hawaii, kami pergi ke
rumah Host Family. Pada saat itu saya dan Ling salah satu delegasi Laos berada
di Hostfamily yang sama. Kami akan tinggal bersama keluarga Mr. Paul Polit yang
merupakan retired Airline pilot US Navy, dan Mrs Wendy yang merupakan seorang
guru. Pengalaman tinngal bersama keluarga Amerika adalah pegalaman yang luar
biasa, kami bertukar cerita dan bagaimana budaya kami di ASEAN, they threat us
better than my expectations. They invited us to watch Hula Dance (Hawaiian
Dance) di Diamond Head Lookout. Kemudian
berkeliling Hawaii, begitu banyak tempat yang kami kunjungi kala itu, sehingga
saya melupakan namanya namun abadi dalam ingatan. LOL
----
Singkatnya, selama di Hawaii kami
melakukan kunjungan ke beberapa situs dan ini telah membantu untuk meningkatkan
pemahaman kami tentang masalah yang diangkat. Berikut adalah daftar tempat yang
kami kunjungi sebagai bagian dari kurikulum pembelajaran:
1. Ancient taro farm near
the University of Hawai'i - learning about soft-engineering the natural environment
for a sustainable production of taro.
2. Hawai'i
Earth Recycling - open air composting site.
3. H Power -
harnessing energy from the incineration of wastes.
4. Rooftop
garden of hydroponic and aquaponic systems at the
Institute of Human Services.
5. Hawai'i
Community Foundation - philanthropy in the social impact
investments.
6. Hawai'i
Awesome Foundation - a giving circle in the social impact
investments.
7. Morgan
Stanley's representative, Ms. Noel Pacarro Brown - impact
investing speaker.
8. Down to
Earth Organic and Natural - an example of a sustainable
supermarket supporting local produces and reducing wastes on plastic
bags and packaging.
9. Banan - a
frozen healthy ice cream business started by the University of Hawai'i
graduates, funded by the gofundme platform.
10. A special
night tour of the Bishop Museums
11. A
night stay at USS Missouri - The ship where the surrender of
the Japanese and marks the official end to World War II...
Minggu keempat, kami pergi ke California
untuk lebih banyak belajar konsep “Unlearn” tentang apa taman nasional itu dan untuk
berhenti meromantisikan gagasan bahwa alam harus dibiarkan tetap liar, dan
belajar bahwa manusia adalah sumber masalah, dan banyak lagi. Disana kami
menyaksikan secara langsung, dan membandingkan Yosemite yang luar biasa dengan
taman yang terletak di jantung San Fransisco, serta Marin Headlands (sisi lain
dari Jembatan Golden Gate).
Pengalaman pertama merasakan udara dingin
dengan suhu berkisar antara 2 derajat C – 12 Derajat C, kami pergi ke Yosemite
Nasional Park dengan menggunakan Amtrak Train selama 6 jam dan kemudian
menggunakan bus selama 3 jam (kebalik). Saya belum pernah melihat begitu banyak
air terjun dalam hidup saya, belum lagi itu, Yosemite Fall lebih dari 800m
tinggi! Taman ini adalah yang pertama di dunia yang didirikan pada tahun 1890,
dan ideasi dan sistem “taman nasional” tumbuh di seluruh dunia setelahnya.
Di Yosemite National Park kami dikawal oleh Universitas California Merced untuk
Program Kepemimpinan Yosemite di mana kami dapat melihat Bendungan
O'Shaughnessy dan Hetch Hetchy Reservoir dan belajar banyak hal tentang
signifikansinya bagi negara bagian California, serta Silicon Valley . Kami merasa
sangat aneh dan bertaya-tanya ketika melihat bendungan
di tengah taman nasional.
Bukankah taman nasional harus benar-benar dilindungi karena hutan belantaranya
dan tidak akan dijamah dengan cara apa pun? Namun kami kemudian belajar bahwa
dengan menciptakan bendungan ini, negara bagian California telah mengalihkan
sebagian dari uang yang dihasilkan dari kontribusi bendungan untuk mengatur
“hubungan simbiosis” antara manusia dan alam. Ini cukup untuk menutupi biaya
melindungi taman nasional oleh penjaga hutan, karena taman menyediakan manusia
dengan layanan ekosistemnya. Jadi sesungguhnya, kita tidak bisa mengambil aspek
manusia sepenuhnya dari satu sisi. Manusia juga merupakan bagian dari alam.
Hari berikutnya kami berkunjung ke Behind The
Scene Tour ke Aquarium Bay di San Fransisco. Disana kami mempelajari bagaimana
akuarium terus berjalan dan berkelanjtan. Ini dimulai dari sumber makanan yang
mereka berikan kepada hewan-hewan mereka dipajang, untuk pengomposan limbah,
nekropsi pameran mati dan yang paling penting, integrasi pendidikan ke dalam
tur.
Kemudian ke Pusat Pembelajaran Crissy Field
dengan Park Ranger, Fatima. Dia adalah seorang pendidik / penjaga taman yang
luar biasa dan dia menanamkan cinta untuk alam dan berada di luar ruangan
melalui permainan interaktif dan bercerita. Dia memulai dengan berbagi kisahnya
tumbuh sebagai imigran Spanyol-Meksiko di Amerika dan bagaimana dia datang
dengan mimpinya menjadi penjaga taman. Kami berain-main bersama sambil
menikmati pemandangan Golden Bridge dan suhu yang cukup dingin kala itu. Permainan
ini berpusat di sekitar sejarah San Francisco, penduduk asli dan pemukim awal,
Tentara Kerbau dan bagaimana taman ini ditetapkan dari kesepakatan kumulatif
publik. Kami belajar tentang sikat Coyote, dan beberapa tanaman asli lainnya
yang berguna sebagai obat.
Kami pindah ke hostel berikutnya yang ada di
Marin Headland Center, mungkin ini adalah tempat keempat penginapan kami.
Sesampainya di hostel International tesrsebut kamu mengunjungi Headlands Centre
for the Art: Pameran Alam Manusia Lucas Foglia. Yang sangat saya sukai dari
program ini adalah kami menutupi hampir setiap aspek masalah lingkungan,
termasuk menggunakan seni untuk menyampaikan pesan kepada massa. Lucas telah
menjadi inspirasi ketika ia mengambil foto-foto yang mencolok dan tidak klise
untuk membantu orang memahami hubungan manusia dan alam yang rumit.
Art is not a propaganda.
While propaganda tells you what to do, art allows you to interpret it
individually - Lucas Foglia.
Kami juga melakukan kunjungan ke SF Marine
Mammal Center. Sebuah rumah sakit yang didedikasikan untuk menyelamatkan,
merehabilitasi dan melepaskan satwa liar yang tertekan - dan tentu saja,
bagaimana kita bisa melupakan kelucuan anjing laut, singa laut, dan
berang-berang.
Hari berikutnya, Jaymen dan Lance
mengantarkan kami berjalan-jalan di luar dengan Nature Bridge staff, dan cuaca
kala itu luar biasa dingin dan berangin, hampir tak sanggup lagi dan keadaan
tersebut membuat saya down kesekian kalinya. LOL namun segalanya terbalaskan kami
melihat rusa liar saat berada di kampus, dan mengidentifikasi beberapa spesies
kunci yang umum di daerah seperti Poison Oak (jika 3 dan berkilau, biarkan saja),
Vulture Turki (dari rentang sayap berbentuk V) , melihat rusa liar dan
pengenalan musim semi mekar (phyto- dan zoo-plankton mencari melalui
mikroskop). Kami kembali bermain-main disekitar pantai dan melakukan hiking
sambil belajar, sungguh menyengankan mengakhri hari di California, disini kami
mulai konsep perbandingan antara Yosemite National Park dengan Golden Gate
National Park, kami berdiskusi masing-masing 2 orang sambil menikmati
perjalanan dingin. Saya memiliki Jaymen sebagai Handshake Buddy dan Han sebagai
Yosemite Buddy. Bersama merekalah kami mulai membahas segala yang telah kami
dapatlkan melalui trip singkat tersebut.
East West Center di Washington DC adalah
tempat kami mengakhiri perjalanan panjang selama 5 minggu kami dengan upacara
pemberian sertifikat oleh Kevin Orchison, Program Officer di Biro Pendidikan
dan Kebudayaan (ECA), Departemen Luar Negeri AS. Selamat untuk semua rekan,
kami berhasil! Jadi DC sangat berarti bagi kami, ketika kami tiba dari San
Francisco pada hari Jumat, akhir pekan adalah sinar matahari dan 28 derajat C.
Hari Senin berikutnya dan hari-hari yang tersisa namun turun menjadi 4 derajat
C, dengan angin, hujan dan dingin.
Mentor kami, Lance C. Boyd selalu
menyatakan bahwa Final day at Washington Dc bukanlah kelulusan kami, kami akan
lulus ketika kalian telah membuat perubahan dan aksi nyata di negara kalian. He also said” fall in love with problems, not
solution” sehingga kita tak perlu terus mencari cara ataupun solusi tentang
permasalahan apa yang sedang teradi karena tak akan ada habisnya, lebih baik
bertindak dari apa yang bisa kita lakukan untuk menajga alam.
------
Mahalo,
22 Fellow trained ; Indonesia (Robby, Nesha, Zalida, Lucia), Malaysia (Don, Fatin, Jason), Thailand ( Pugwan, Nap), Phillipinnes ( Pam, Ey, Mj), Vietnam (Loki, Tan, Tuan), Laos (Ling), Brunei (Mina), Singapore (Han), Cambodia ( Nick, Pheakdey), Myanmar (Ace, Win Ko)
Mentor : Lance C. Biys, Christina Monroe, Dorris Masser
Project Officer : Jaymen Laupola
Assistant Officer : Beverly Honda
11 prototypes; Startup Accelerator,Startup Ecosystem Event, Impact Innvestment,Innovation Lab, Green Techonlogy, B-Corp, Crowdfunding, Peer to peer lending, giving circle, Aquaponics and citizen juries.






Comments
Post a Comment