Alam Bukan Tempat Sampah : Pendidikan Lingkungan Sejak Dini
Membuang
sampah sembarangan merupakan salah satu pelanggaran etika yang yang sering kita
jumpai dan telah menjadi hal yang umum di masyarakat Indonesia. Sampah adalah
urusan setiap orang (Wilson, 2015). Tanpa disadari masyarakat telah
menganggap bahwa membuang sampah sembarangan adalah hal yang biasa.
Permasalahan sampah tak hanya menyoal kebijakan pemerintah tentang sampah dan
teknologi pengelolaannya, karena jika kita berbicara pada ranah tersebut maka
akan kalah dengan negara maju yang teknologinya sudah berkembang pesat, namun
yang jauh lebih penting adalah perilaku manusia yang membuang sampah itu
sendiri yang perlu mendapat perhatian dan edukasi dari berbagai sisi.
Seringkali kita melihat banyak orang yang membuang sampah seenaknya, tanpa
memikirkan dampak yang akan terjadi kedepannya. Kebanyakan kita
menggunakan plastik sekali pakai kemudian di buang seenaknya, padahal masih
bisa di manfaatkan lagi. Tanpa
disadari bahwa sampah yang di buang bukanlah benar-benar sampah namun masih
memiliki nilai karena pada dasarnya WASTE IS NOT WASTE. Sudah
terlalu banyak tragedi yang terjadi akibat sampah yang kita pakai, hewan-hewan
terkena dampak oleh kelakuan manusia yang kurang bijak dalam mengelola sampah. Dalam
sudut pandang mereka, tak apalah membuang sampah sekecil ini. Bagaimana jika
ada ribuan orang yang melakukan hal sama seperti anda ? Jika sudah terjadi
bencana alam, barulah akan sibuk mengeluh dan menyalahkan tapi sedikitpun
tak mau berpeluh. Lantas ?
Hampir di
setiap sudut Indonesia kita melihat sampah yang berserakan dimana-mana. Lingkungan menjadi terlihat kumuh, kotor dan
menjijikan sehingga menjadi tempat berkembangnya patogen yang berbahaya bagi
kesehatan manusia. Aktivitas membuang sampah dengan
seenaknya tampak sudah membudaya di masyarakat Indonesia. Ingatlah,
alam bukan tempat sampah. Terkadang mereka hanya mengandalkan upaya
pemerintah yang selalu di anggap tidak berjalan, padahal pemerintah tidak akan
bisa bergerak tanpa bantuan masyarakat itu sendiri. Kita harus mengingat sistem
Demokrasi Masyarakat Indonesia “Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat”. Sehingga masyarakat harusnya saling membahu dalam menyikapi
berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia, bukan hanya mengandalkan dan
menyalahkan disebelah pihak. Sebab masalah sampah hanya mampu diatasi lewat
sinergi antara kebijakan pemerintah bersama kepedulian masyarakat untuk peduli
terhadap lingkungan terdekat dan terkecil.
Pengaruh
lingkungan dapat membentuk perilaku membuang sampah sembarangan. Saat ini,
dalam menganggapi masalah membuang sampah sembarangan sudah menjadi pola
perilaku dimasyarakat yang “biasa” karena semua orang melakukannya. Secara
tidak sadar maka perilaku membuang sampah sembarangan akan menjadi suatu bentuk
perilaku yang terinternalisasi didalam pikiran bahwa membuang sampah
sembarangan bukanlah hal yang salah. Dan parahnya para orang tua melakukan
kebiasaan buruk ini di hadapan anal-anak mereka. Perlu di ingat, cara seseorang
manusia belajar yang paling mudah adalah dengan imitasi dan sebagian besar
masyarakat belajar suatu perilaku adalah dengan imitasi.
Sebenarnya ada apa dengan sebagian besar masyarakat
Indonesia ?
Berbeda
halnya dengan negara maju seperti Amerika Serikat, berdasarkan pengalaman
pribadi penulis saat mengunjungi Amerika Serikat dalam program YSEALI Academic
Fellowship Spring 2018, negara
tersebut sangatlah bersih, jalanan dan tempat umum sangat terawat, dan
dapat dengan mudah menjumpai tong-tong sampah, sangat sulit untuk menemui
sampah disana dan melihat pemandangan seperti di Indonesia. Selama
lima minggu di AS, banyak yang dipelajari terutama mengenai lingkungan dan
bagaimana AS menjaga lingkungannya. Melarang keras membuang sampah di tempat
umum dengan menyediakan tempat sampah dimana-mana sehingga tidak ada alasan
manusia untuk membuang sampah sembarangan. Dampaknya, lingkungan tempat tinggal
maupun tempat umum selalu dalam kedaan bersih dari sampah-sampah organik,
maupun non-organik. Berdasarkan teori Perceived behavior control,
seseorang melakukan suatu tindakan yang dirasa lebih mudah untuk dilakukannya
karena tersedianya sumber daya. Jadi, orang tidak akan membuang sampah
sembarangan bila tersedia banyak tempat sampah di pinggir jalan dan tempat umum.
Di Amerika
Serikat, para orang tua selalu membiasakan anak dan mulai mengedukasi anaknya
sejak dini untuk mengenal lingkungan. Seperti pengalaman pribadi penulis saat
mengunjungi Yosemite National Park dan Golden Gate National Park di California,
terlihat banyak sekali pengunjung taman Nasional ini adalah kelompok keluarga
dengan anak-anak mereka, serta anak-anak dan remaja yang melakukan study tour
untuk mempelajari lingkungan dan cara memanajemen lingkungan, mereka dengan
cerianya mempelajari lingkungan disekitar mereka. Dalam hal ini terlihat sekali
bahwa cara orang Amerika menghabiskan waktu dengan keluarga ternyata bertolak belakang
dengan di Indonesia. Banyak orang tua yang sangat sibuk dengan pekerjaan
sehingga melupakan waktu dengan anak-anak mereka, dan saat memiliki waktu
senggang, taman hiburan akan bertiket mahal sehingga pusat perbelanjaan justru
menjadi pilihan. Hanya segelintir keluarga yang mengahisbkan akhir pekan dengan
mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai lingkungan. Sudah saatnya para
orangtua di Indonesia mengajarkan kebiasaan positif seperti
mencintai lingkungan sedari dini seperti para orang tua di AS lakukan kepada
anak-anak mereka.
Menurut hasil
penelitian Ogelman (2012) berbagai penelitian diberbagai negara yang
dipersiapkan dan ditujukan untuk menyediakan pendidikan
lingkungan kepada anak usia dini secara umum menginginkan adanya
peningkatan pengetahuan dan kesadaran anak-anak terhadap lingkungan. Pendidikan
yang menggabungkan beberapa tema kepedulian lingkungan seperti penghematan air,
listrik, dan transportasi masih terlalu luas, sehingga perlu adanya pendidikan
yang berfokus pada satu tema, misalnya daur ulang atau sampah. Program mengenai
perilaku manajemen sampah dapat diajarkan dan diberikan kepada anak-anak di
Indonesia melalui suatu bentuk aktivitas yang melibatkan guru sebagai seseorang
yang berperan dalam proses pengajaran di sekolah dan anak-anak usia dini di
sekolah sebagai subyek dari program pendidikan lingkungan.
Perilaku
membuang sampah sembarangan hingga munculnya berbagai persoalan
terkait pengelolaan sampah menjadi refleksi bagi peneliti
tentang pentingnya pendidikan lingkungan khususnya yang berkaitan
dengan perilaku terhadap sampah. Pendidikan lingkungan tentang
pengelolaan sampah sebaiknya dimulai sejak dini. Gagasan pendidikan
lingkungan pada anak usia dini dicetuskan pertama kali oleh Jaus
pada tahun 1982 (Yoleri, 2012). Menurut Yoleri (2012) ada dua alasan penting
memulai pendidikan lingkungan di usia dini. Pertama, tahun-tahun
awal kehidupan anak merupakan kesempatan emas untuk mengajarkan
perilaku hormat dan membangun kesadaran terhadap lingkungan, bila
pendidikan terlambat maka sikap tidak akan terbangun sepenuhnya.
Kedua, pendidikan lingkungan dan interaksi positif terhadap
alam merupakan komponen yang penting dari perkembangan karakter anak
yang sehat sehingga akan berkontribusi terhadap perilaku positif dan
kualitas kehidupan individu. Selain dua alasan tersebut, interaksi
anak-anak dengan alam merupakan suatu bentuk interaksi yang sehat
untuk pemenuhi kebutuhan fisik, psikologis dan emosional. Kos (2016)
menyatakan bahwa periode anak usia dini merupakan masa kehidupan di mana
sikap-sikap jangka panjang, nilai-nilai dan pola-pola yang berkaitan
dengan perilaku terhadap lingkungan dibentuk. Pendidikan
terhadap lingkungan menjadi hal yang diminati dalam pendidikan anak
usia dini. Hal ini karena keberhasilan pendidikan di usia dini akan
mempengaruhi karakter dan perilaku baik individu di usia dewasanya. Begitu juga
sebaliknya kegagalan dalam menanamkan karakter peduli lingkungan di
usia dini akan menyebabkan kurangnya kesadaran dalam menjaga
lingkungan di usia dewasa sebagaimana perilaku membuang sampah sembarangan yang
umum terjadi di masyarakat. Seringkali kita melihat slogan-slogan di berbagai tempat terutama
di sekolah, yang isinya ajakan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Akan tetapi
slogan tadi tidak di pedulikan, slogan tadi fungsinya hanya seperti hiasan
belaka tanpa dimaknai, padahal isi dari sebuah slogan sangatlah penting.
Berdasarkan hasil
wawancara dengan petugas kebersihan diperoleh informasi bahwa siswa cenderung
membuang sampah sembarangan dan bila ketahuan lalu ditegur mereka memungutnya
dan membuang ke tempat sampah tetapi keesokan harinya bisa terulang kembali.
Walaupun setiap hari diingatkan dan dinasehati, namun siswa tetap membuang
sampah sembarangan, bahkan sering ditemukan sampah kertas dan bekas bungkus
makanan di dalam laci meja. Hasil wawancara dengan beberapa anak-anak dan
remaja diperoleh informasi bahwa mereka membuang sampah sembarangan karena
tempat sampah jauh dan malas membuangnya ke tempat sampah. Hasil wawancara
dengan guru diperleh informasi bahwa walaupun diberi sanksi dan hukuman namun
tetap tidak memberi pengaruh yang berarti. Bahkan pemasangan slogan-slogan yang
berisi anjuran untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampai
sembarangan tidak memberi pengaruh berarti. Slogan-slogan yang ditempelkan atau
digantung di lingkungan sekolah seolah tidak menarik minat siswa untuk
memahaminya.
Berdasarkan pengamatan penulis ketika
mengikuti kegiatan Clean Action (Gerakan Pungut Sampah) bersama komunitas
Palangka Raya Clean Action yang rutin dilaksanakan setiap pagi pada hari minggu
di CFD Bundaran Besar Palangka Raya, anak-anak dan remaja dengan sengaja
membuang sampah mereka di tempat mereka bersantai, mereka terlihat enggan untuk
membuang bungkus makanannya meskipun letaknya tak jauh dari tong sampah, mereka
memilih melemparnya kedalam selokan dan mengabaikannya. Namun tak sedikit juga
anak-anak yang tertarik pada aksi ini, mereka mulai teredukasi dengan hal ini,
tak jarang mereka turut serta dan berpartisipasi dalam gerakan pungut sampah
ini. Ada beberapa anak yang rasa kepeduliannya terhadap lingkungan sudah mulai
berkembang. Inilah mengapa pentingnya kita memberikan edukasi tentang
pentingnya menjaga lingkungan secara dini.
Dapat disimpulkan bahwa sangat perlu adanya pendidikan
sejak dini tentang perilaku membuang dan mengelola sampah dengan bijak. Karena
faktanya di tingkat pendidikan masih ditemukan anak-anak yang belum
membuang sampah secara benar. Hal yang menjadi penyebab utama anak-anak dan
remaja membuang sampah sembarangan adalah karena mereka belajar dari imitasi,
mereka melihat perilaku orang sekitar yang merasa tak bersalah dalam membuang
sampah seenaknya, kemudian karena kurangnya sumber daya seperti tong sampah
yang jauh dan jarang ditemukan, dan juga karena kurangnya edukasi sejak dini
untuk mencintai dan menghargai lingkungan.
Selama ini program-program pengelolaan
sampah lebih terfokus pada bagaimana mengolah sampah-sampah. Tidak ada yang
salah, tetapi program-program itu melupakan sisi yang lain. Sebenarnya jika
masalah yang ada di ‘orangnya’ bisa diselesaikan, masalah-masalah sampah tidak
akan terjadi. Masyarakat memiliki karakter dan perilaku yang buruk tentang
sampah. Kalau diperhatikan di kampus-kampus atau di kantor-kantor yang umumnya
lulusan perguruan tinggi masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan.
Terkadang di jalanpun, ada orang naik mobil Mewah tetap membuang sampah
sembarangan dari jendela mobilnya. Merubah perilaku masyarakat bukan pekerjaan
yang mudah. Upaya ini memerlukan waktu yang lama dan terus menerus. Perubahan
perilaku dapat dilakukan melalui dunia pendidikan dengan cara memberikan
pelajaran tentang sampah kepada anak-anak didik sejak mulai dari TK sampai
Perguruan Tinggi. Mereka diajari untuk membuang sampah plastik di tempat sampah
plastik, sampah daun di tempat sampah organik, dan seterusnya. Mereka juga
diberi pemahaman tentang akibat-akibat buruk membuang sampah sembarangan. Para
guru dan pendidik harus dapat memberikan contoh/teladan membuang sampah pada
tempatnya. Program-program pemerintah yang sudah berjalan, seperti penghargaan
Adipura dapat digalakkan kembali. Hadiahnya diperbesar sehingga lebih menarik
daerah-daerah untuk meraih penghargaan tersebut. Demikian pula perlu diberikan
penghargaan-penghargaan lain untuk perorangan atau kelompok-kelompok masyarakat
yang telah berhasil mengelola sampah dengan baik.

Comments
Post a Comment